AKU Selalu Kembali
Pagi itu,
sehelai daun kering jatuh
tepat di kaca kendaraan yang kutumpangi.
Sesaat aku memandanginya.
Ada keinginan untuk meraih.
Namun angin datang lebih dulu,
membawanya pergi entah ke mana.
Daun itu terus bergerak menjauh.
Terpisah dari pohonnya.
Dan tak akan pernah kembali ke tempat asalnya.
Aku memandangnya hingga hilang dari pandangan.
Lalu tanpa sengaja,
pikiranku melayang
ke rumah yang baru saja kutinggalkan.
Setiap pagi,
ada kebiasaan kecil yang selalu terjadi.
Kebiasaan yang sederhana,
namun selalu membuat hatiku hangat.
Anabulku mengantarku pergi.
Yang satu bertubuh besar dan terlihat gagah.
Namun matanya selalu tampak sayu
saat aku melambaikan tangan sebelum berangkat bekerja.
Ia berjalan pelan menuju rumah kecilnya.
Lalu berhenti di depan pintu.
Menoleh sekali lagi ke arahku.
Seolah ingin berkata,
"Kalau kau pergi, aku lebih baik menunggumu di sini."
Dan setelah itu ia masuk ke dalam.
Dua anabulku yang lain tak jauh berbeda.
Mereka duduk diam di dekat kakiku sebelum aku berangkat.
Enggan menjauh.
Seolah berharap waktu bisa berhenti beberapa saat lebih lama.
Tatapan mereka selalu sama.
Penuh harap.
Penuh kedekatan.
Dan setiap kali melihatnya, aku selalu tersenyum.
Karena aku tahu satu hal.
Perpisahan kami tidak seperti daun kering yang terbang entah ke mana.
Aku tidak benar-benar pergi.
Aku hanya berangkat.
Dan saat hari selesai,
aku akan kembali pulang.
Membuka pintu rumah.
Dan menemukan mereka menunggu di tempat yang sama.
Dengan ekor yang bergoyang.
Dengan langkah-langkah kecil yang berlari menyambut.
Dan mungkin itulah yang membuat perpisahan kecil setiap pagi terasa lebih ringan.
Karena ada kepastian bahwa cinta sedang menunggu di rumah 🌿
Sejauh apapun aku pergi,
Akhirnya langkahku kembali pulang
Kalau ingin meninggalkan cerita kecilmu di sini, aku akan senang membacanya 🌙
Tidak ada komentar:
Posting Komentar