Di Bawah Rindang dan Tawa
Hari itu terasa ringan.
Aku duduk di antara sahabat-sahabatku,
di sebuah tempat yang adem,
dikelilingi pohon-pohon rindang
yang seolah ikut menjaga suasana tetap tenang.
Angin berhembus pelan,
menyentuh wajahku,
meniupkan helaian rambutku
dengan cara yang begitu lembut.
Di hadapanku,
ada senyum yang saling menyambut,
ada tawa yang tidak ditahan,
dan ada cerita-cerita kecil
yang mengalir tanpa dibuat-buat.
Kami tidak sedang membicarakan hal besar,
hanya hal-hal sederhana
yang entah bagaimana terasa begitu berarti.
Di meja,
tersaji makanan ringan
dan minuman segar
yang melengkapi kebersamaan kami.
Aku memecah sandwich di tanganku,
dan menyeruput go mojito yang dingin—
segar, ringan, dan pas dengan suasana hari itu.
Lalu datang satu momen yang membuat kami tertawa lebih lama.
Foto kami berempat—
yang sudah hampir menjadi oma—
diubah oleh AI
menjadi wajah-wajah yang muda,
kurus, dan cantik seperti noni-noni.
Kami saling melihat,
lalu tertawa.
Bukan karena ingin kembali ke masa itu,
tapi karena menyadari
bahwa kebahagiaan kami hari ini
tidak kalah indahnya.
Ini adalah pertemuan kecil—
untuk merayakan langkah baru
dari anak salah satu sahabatku,
yang membuka sebuah tempat dengan harapnya sendiri.
Dan di tengah semuanya,
aku menyadari sesuatu yang sederhana:
bahwa kebahagiaan
tidak selalu datang dalam bentuk yang besar.
Kadang…
ia hadir dalam angin yang sejuk,
dalam tawa yang lepas,
dan dalam kebersamaan
yang tidak perlu direncanakan dengan sempurna.
“ditulis di antara tawa yang tidak ingin segera selesai.”
— Treesmie
Tidak ada komentar:
Posting Komentar