Di Sudut Kecil itu
Di sudut kecil itu,
malam mulai turun perlahan.
Lampu di sudut ruangan kembali menyala.
Kursi cokelat itu menunggu seperti biasa.
Di atasnya ada benang yang belum selesai dirajut.
Di bawahnya,
dua anabul yang memilih tidur dekat kakiku.
Seolah ingin memastikan aku tidak benar-benar sendirian.
Di sudut lain ada sebuah kotak berisi perlengkapan merajut.
Hook, gunting, mata boneka, dan berbagai benda kecil
yang selama ini membantu lahirnya banyak karya.
Tak jauh dari sana,
tersimpan kotak lain berisi sisa-sisa benang.
Benang yang terlalu sedikit untuk menjadi proyek besar.
Namun terlalu berharga untuk dibuang.
Masing-masing menyimpan kenangan
tentang sesuatu yang pernah kubuat.
Ada pula kotak yang berisi karya-karya lama.
Beruang yang bentuknya belum sempurna.
Burung hantu dengan ekspresi yang membuatku tersenyum.
Pot-pot kecil yang tidak jadi dipakai.
Dan berbagai percobaan lain
yang tidak pernah masuk ke dalam binder.
Dulu aku menganggap mereka sebagai hasil yang gagal.
Kini aku melihatnya sebagai bagian dari perjalanan.
Karena tanpa mereka,
aku tidak akan sampai pada karya-karya yang bisa kubuat hari ini.
Lalu ada binder yang perlahan mulai terisi.
Beberapa pola yang sudah berhasil.
Beberapa yang masih menunggu revisi.
Dan beberapa lagi yang masih berupa catatan di file Word.
Tidak banyak.
Namun cukup untuk membuatku tersenyum saat melihatnya.
Malam ini aku menyadari sesuatu.
Ternyata kebahagiaan
tidak selalu datang dari karya yang selesai.
Kadang ia hadir dalam bentuk yang lebih sederhana.
Sebuah sudut kecil yang nyaman.
Benang yang menunggu dirajut.
Dua anabul yang tertidur pulas.
Dan hati yang perlahan belajar menikmati proses.
Karena mungkin...
yang sedang kubangun bukan hanya kumpulan karya.
Melainkan kumpulan kenangan
yang suatu hari akan kuceritakan kembali dengan senyum di wajah.
Dan di sudut kecil itu
perlahan kukumpulkan kenangan.
Kalau ingin meninggalkan cerita kecilmu di sini, aku akan senang membacanya 🌙
Tidak ada komentar:
Posting Komentar