πΏ Diam-Diam Aku Melihat π§Άπ§Ά
Kadang kebahagiaan terbesar tidak datang ketika karya dipuji,
melainkan ketika tanpa disadari, karya itu telah menjadi bagian dari keseharian seseorang.
Hari ini...
aku berjalan seperti biasa.
Naik ke lantai dua.
Turun lagi ke lantai satu.
Lalu kembali ke lantai tiga.
Tidak ada yang berbeda.
Semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Namun...
entah mengapa hari ini aku lebih banyak memperhatikan.
Di sebuah meja...
aku melihat sebuah flower coaster.
Di atasnya berdiri segelas minuman hangat.
Beberapa langkah kemudian...
aku melihat seorang staf sedang mengikat rambutnya.
Ia memakai scrunchie yang pernah kubuat.
Di lorong kantor...
seseorang berjalan membawa tumbler.
Cup holder kecil itu ikut bergoyang mengikuti langkahnya.
Ada juga yang masih memakai gantungan leher yang pernah kuberikan.
Mereka mungkin tidak menyadarinya.
Bahkan mungkin sudah lupa siapa yang membuatnya.
Tetapi aku tahu.
Dan diam-diam...
aku tersenyum sendiri.
Aku pernah mengalami "penolakan".
Bahkan sampai dua kali.
Pertama...
ketika aku membuatkan gantungan telepon genggam.
Kedua...
saat aku merajut syal untuk seseorang yang akan bepergian ke negeri yang dingin.
Jawabannya hampir sama.
"Terima kasih... tapi aku tidak membutuhkannya."
Lucunya...
aku tidak terluka.
Karena beberapa waktu kemudian...
karya-karya itu menemukan pemilik yang benar-benar memerlukannya.
Saat itulah aku belajar.
Tidak semua penolakan berarti karya kita tidak berharga.
Kadang...
ia hanya sedang mencari rumah yang tepat.
Hari ini...
aku menerima uang tiga puluh ribu dari hasil rajutan kecilku.
Aku tentu bersyukur.
Namun...
ternyata ada kebahagiaan lain yang nilainya tidak bisa dihitung.
Melihat hasil karya kecilku...
diam-diam menemani keseharian orang lain.
Mungkin...
itulah alasan mengapa sampai hari ini aku masih senang merajut.
Bukan hanya karena benangnya.
Bukan hanya karena polanya.
Tetapi karena...
setiap karya kecil selalu membawa harapan...
agar dapat menjadi bagian kecil dari hidup seseorang.
Dan ternyata...
beberapa di antaranya...
sudah menemukan tempatnya.
aku berjalan seperti biasa.
Naik ke lantai dua.
Turun lagi ke lantai satu.
Lalu kembali ke lantai tiga.
Tidak ada yang berbeda.
Semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Namun...
entah mengapa hari ini aku lebih banyak memperhatikan.
Di sebuah meja...
aku melihat sebuah flower coaster.
Di atasnya berdiri segelas minuman hangat.
Beberapa langkah kemudian...
aku melihat seorang staf sedang mengikat rambutnya.
Ia memakai scrunchie yang pernah kubuat.
Di lorong kantor...
seseorang berjalan membawa tumbler.
Cup holder kecil itu ikut bergoyang mengikuti langkahnya.
Ada juga yang masih memakai gantungan leher yang pernah kuberikan.
Mereka mungkin tidak menyadarinya.
Bahkan mungkin sudah lupa siapa yang membuatnya.
Tetapi aku tahu.
Dan diam-diam...
aku tersenyum sendiri.
Aku pernah mengalami "penolakan".
Bahkan sampai dua kali.
Pertama...
ketika aku membuatkan gantungan telepon genggam.
Kedua...
saat aku merajut syal untuk seseorang yang akan bepergian ke negeri yang dingin.
Jawabannya hampir sama.
"Terima kasih... tapi aku tidak membutuhkannya."
Lucunya...
aku tidak terluka.
Karena beberapa waktu kemudian...
karya-karya itu menemukan pemilik yang benar-benar memerlukannya.
Saat itulah aku belajar.
Tidak semua penolakan berarti karya kita tidak berharga.
Kadang...
ia hanya sedang mencari rumah yang tepat.
Hari ini...
aku menerima uang tiga puluh ribu dari hasil rajutan kecilku.
Aku tentu bersyukur.
Namun...
ternyata ada kebahagiaan lain yang nilainya tidak bisa dihitung.
Melihat hasil karya kecilku...
diam-diam menemani keseharian orang lain.
Mungkin...
itulah alasan mengapa sampai hari ini aku masih senang merajut.
Bukan hanya karena benangnya.
Bukan hanya karena polanya.
Tetapi karena...
setiap karya kecil selalu membawa harapan...
agar dapat menjadi bagian kecil dari hidup seseorang.
Dan ternyata...
beberapa di antaranya...
sudah menemukan tempatnya.
Kadang kebahagiaan terbesar
bukan saat karya kita dipuji.
Melainkan ketika diam-diam...
karya itu telah menjadi bagian
dari keseharian seseorang.
— Treesmie πΏ
bukan saat karya kita dipuji.
Melainkan ketika diam-diam...
karya itu telah menjadi bagian
dari keseharian seseorang.
— Treesmie πΏ
Apakah kamu pernah membuat sesuatu
yang kemudian diam-diam menjadi bagian dari hidup orang lain?
Aku akan senang jika kamu ingin berbagi ceritamu.
yang kemudian diam-diam menjadi bagian dari hidup orang lain?
Aku akan senang jika kamu ingin berbagi ceritamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar