Keseharian
Hari-Hari Yang Kulalui
Hari-hariku akhir-akhir ini
terasa begitu bervariasi.
Menyenangkan.
Dan sama sekali tidak membosankan.
Pagi hari,
aku menyisihkan waktu
untuk berjalan bersama kedua anabulku.
Mereka selalu menantikan momen itu.
Kami berjalan ke dekat jalan raya.
Mereka duduk tenang,
memandangi kendaraan yang berlalu-lalang
seolah dunia pagi begitu menarik untuk diamati.
Sepulangnya,
aku menyiapkan makanan untuk mereka.
Termasuk untuk si hitam besar,
anabul kebanggaan keluarga kami.
Tepat pukul delapan,
aku berangkat bekerja,
meninggalkan mereka di rumah.
Seperti hari-hari lainnya,
rutinitas kantor menunggu untuk diselesaikan.
Namun di sela kesibukan itu,
kadang tiba-tiba muncul
sepotong kalimat.
Sebuah ide.
Atau sebuah cerita kecil
yang mengalir begitu saja.
Ada kalanya,
yang datang justru sebaris lirik lagu.
Aku segera menuliskannya,
agar tidak hilang ditelan kesibukan.
Siapa tahu,
suatu saat nanti
ia akan tumbuh menjadi sebuah lagu.
Saat waktu istirahat tiba,
aku sering mampir sejenak
ke rumah kecil bernama Treesmie.
Tempat kata-kata bertumbuh.
Tempat hati bercerita.
Dan tempat sebuah puisi
kadang menemukan jalannya menjadi lagu.
Menjelang pulang,
aku kembali bermain dengan lirik.
Mengubah puisi menjadi lagu,
lalu mencoba berbagai aransemen
bersama bantuan AI.
Ternyata tidak semudah yang kubayangkan.
Namun justru di situlah letak keseruannya.
Saat malam tiba,
giliranku duduk bersama benang dan hakpen.
Satu demi satu rajutan lahir.
Bukan sekadar menjadi sebuah karya,
tetapi menjadi tanda terima kasih
untuk orang-orang yang akan menerimanya.
Begitulah hari-hariku
akhir-akhir ini.
Sederhana.
Berpindah dari satu kesibukan ke kesibukan lain.
Namun entah mengapa,
aku begitu menikmati semuanya.
Dan setiap kali berdoa,
aku selalu menemukan alasan baru
untuk mengucap syukur.
terasa begitu bervariasi.
Menyenangkan.
Dan sama sekali tidak membosankan.
Pagi hari,
aku menyisihkan waktu
untuk berjalan bersama kedua anabulku.
Mereka selalu menantikan momen itu.
Kami berjalan ke dekat jalan raya.
Mereka duduk tenang,
memandangi kendaraan yang berlalu-lalang
seolah dunia pagi begitu menarik untuk diamati.
Sepulangnya,
aku menyiapkan makanan untuk mereka.
Termasuk untuk si hitam besar,
anabul kebanggaan keluarga kami.
Tepat pukul delapan,
aku berangkat bekerja,
meninggalkan mereka di rumah.
Seperti hari-hari lainnya,
rutinitas kantor menunggu untuk diselesaikan.
Namun di sela kesibukan itu,
kadang tiba-tiba muncul
sepotong kalimat.
Sebuah ide.
Atau sebuah cerita kecil
yang mengalir begitu saja.
Ada kalanya,
yang datang justru sebaris lirik lagu.
Aku segera menuliskannya,
agar tidak hilang ditelan kesibukan.
Siapa tahu,
suatu saat nanti
ia akan tumbuh menjadi sebuah lagu.
Saat waktu istirahat tiba,
aku sering mampir sejenak
ke rumah kecil bernama Treesmie.
Tempat kata-kata bertumbuh.
Tempat hati bercerita.
Dan tempat sebuah puisi
kadang menemukan jalannya menjadi lagu.
Menjelang pulang,
aku kembali bermain dengan lirik.
Mengubah puisi menjadi lagu,
lalu mencoba berbagai aransemen
bersama bantuan AI.
Ternyata tidak semudah yang kubayangkan.
Namun justru di situlah letak keseruannya.
Saat malam tiba,
giliranku duduk bersama benang dan hakpen.
Satu demi satu rajutan lahir.
Bukan sekadar menjadi sebuah karya,
tetapi menjadi tanda terima kasih
untuk orang-orang yang akan menerimanya.
Begitulah hari-hariku
akhir-akhir ini.
Sederhana.
Berpindah dari satu kesibukan ke kesibukan lain.
Namun entah mengapa,
aku begitu menikmati semuanya.
Dan setiap kali berdoa,
aku selalu menemukan alasan baru
untuk mengucap syukur.
Hari-hari yang sederhana.
Namun penuh alasan untuk bersyukur.
Namun penuh alasan untuk bersyukur.
Kalau ingin meninggalkan cerita kecilmu di sini, aku akan senang membacanya 🌙
Tidak ada komentar:
Posting Komentar