Keseharian
☘️Saat Aku Tidak Tahu Harus Mengadu ke Siapa
Aku tidak tahu harus mulai dari mana…
Hari-hari belakangan ini terasa berat,
seperti ada sesuatu yang terus menekan dada—
tanpa jeda, tanpa ampun.
Keceriaan yang dulu begitu mudah hadir,
sekarang seperti hilang entah ke mana.
Aku tersenyum, tapi rasanya kosong.
Aku diam, tapi di dalam… begitu bising.
Hidupku tidak lagi terasa tenang.
Yang tersisa hanya kegelisahan
dan ketakutan yang datang silih berganti—
tentang hari esok,
tentang apa yang akan terjadi,
tentang hal-hal yang belum sempat aku perbaiki.
Ini mungkin titik terendah dalam hidupku.
Kesalahan yang kubuat… terasa begitu besar.
Aku memikirkannya berulang kali,
seakan ingin memutar waktu—
padahal aku tahu, tidak ada yang bisa kembali.
Sekarang aku hanya berhadapan dengan akibatnya.
Aku dikejar oleh sesuatu yang tidak bisa aku hindari,
utang yang terus membayangi,
yang bahkan aku sendiri tidak tahu
bagaimana cara menyelesaikannya.
Aku lelah…
tapi aku tahu,
aku tidak bisa berhenti.
Ada satu hal yang paling membuatku takut—
aku tidak ingin semua ini menjadi beban
untuk anak-anakku.
Mereka tidak seharusnya ikut menanggung
apa yang menjadi kesalahanku.
Lalu aku bertanya dalam diam…
kepada siapa aku harus mengeluh?
kepada siapa aku bisa bersandar?
Adakah yang benar-benar bisa menolongku?
atau memang pada akhirnya…
aku harus melewati semua ini sendiri?
Di antara semua pertanyaan itu,
aku masih berdiri di sini—
meski gemetar,
meski rapuh,
meski tidak tahu harus melangkah ke mana.
Dan entah kenapa…
di dalam hati yang paling dalam,
masih ada satu bisikan kecil yang belum padam:
mungkin…
semua ini akan berlalu,
meski perlahan.
meskipun hari ini terasa sangat gelap.
Hari-hari belakangan ini terasa berat,
seperti ada sesuatu yang terus menekan dada—
tanpa jeda, tanpa ampun.
Keceriaan yang dulu begitu mudah hadir,
sekarang seperti hilang entah ke mana.
Aku tersenyum, tapi rasanya kosong.
Aku diam, tapi di dalam… begitu bising.
Hidupku tidak lagi terasa tenang.
Yang tersisa hanya kegelisahan
dan ketakutan yang datang silih berganti—
tentang hari esok,
tentang apa yang akan terjadi,
tentang hal-hal yang belum sempat aku perbaiki.
Ini mungkin titik terendah dalam hidupku.
Kesalahan yang kubuat… terasa begitu besar.
Aku memikirkannya berulang kali,
seakan ingin memutar waktu—
padahal aku tahu, tidak ada yang bisa kembali.
Sekarang aku hanya berhadapan dengan akibatnya.
Aku dikejar oleh sesuatu yang tidak bisa aku hindari,
utang yang terus membayangi,
yang bahkan aku sendiri tidak tahu
bagaimana cara menyelesaikannya.
Aku lelah…
tapi aku tahu,
aku tidak bisa berhenti.
Ada satu hal yang paling membuatku takut—
aku tidak ingin semua ini menjadi beban
untuk anak-anakku.
Mereka tidak seharusnya ikut menanggung
apa yang menjadi kesalahanku.
Lalu aku bertanya dalam diam…
kepada siapa aku harus mengeluh?
kepada siapa aku bisa bersandar?
Adakah yang benar-benar bisa menolongku?
atau memang pada akhirnya…
aku harus melewati semua ini sendiri?
Di antara semua pertanyaan itu,
aku masih berdiri di sini—
meski gemetar,
meski rapuh,
meski tidak tahu harus melangkah ke mana.
Dan entah kenapa…
di dalam hati yang paling dalam,
masih ada satu bisikan kecil yang belum padam:
mungkin…
semua ini akan berlalu,
meski perlahan.
meskipun hari ini terasa sangat gelap.
🌿 Aku hanya sedang lelah, bukan menyerah.
— Treesmie
Tidak ada komentar:
Posting Komentar