Puisi Tunggal
Di Tengah Diam-Mu
Saat dadaku terasa sesak,
beban hidup menghimpit langkahku.
Aku datang kepada-Mu, Tuhan.
Bersujud...
dan memohon.
Namun tak satu pun kata mampu terucap.
Aku hanya berharap
Engkau mengerti isi hatiku.
Aku ingin berteriak meminta tolong,
namun suaraku seakan hilang.
Ratusan...
bahkan ribuan doa
telah kupanjatkan.
Namun Engkau tetap diam.
Tak ada jawaban.
Mengapa, Tuhan?
Begitu beratkah dosaku,
hingga seolah Kau berpaling dariku?
Apakah Kau membiarkanku
berjalan sendiri?
Keluarga menjauh.
Teman pun tak lagi mendekat.
Seakan setiap mata memandangku...
Lalu menertawakan hidupku.
Mengapa Kau biarkan semua ini terjadi?
Mengapa tangan-Mu belum juga terulur
menolongku?
Mengapa Kau terasa begitu jauh?
Mengapa...
Mengapa...
Mengapa, Tuhan?
Namun...
Di tengah semua pertanyaan itu,
bolehkah aku tetap berharap?
Tetap berpegang
hanya kepada-Mu.
Sampai mujizat itu nyata.
Sampai anugerah-Mu
benar-benar kurasakan
dalam hidupku.
beban hidup menghimpit langkahku.
Aku datang kepada-Mu, Tuhan.
Bersujud...
dan memohon.
Namun tak satu pun kata mampu terucap.
Aku hanya berharap
Engkau mengerti isi hatiku.
Aku ingin berteriak meminta tolong,
namun suaraku seakan hilang.
Ratusan...
bahkan ribuan doa
telah kupanjatkan.
Namun Engkau tetap diam.
Tak ada jawaban.
Mengapa, Tuhan?
Begitu beratkah dosaku,
hingga seolah Kau berpaling dariku?
Apakah Kau membiarkanku
berjalan sendiri?
Keluarga menjauh.
Teman pun tak lagi mendekat.
Seakan setiap mata memandangku...
Lalu menertawakan hidupku.
Mengapa Kau biarkan semua ini terjadi?
Mengapa tangan-Mu belum juga terulur
menolongku?
Mengapa Kau terasa begitu jauh?
Mengapa...
Mengapa...
Mengapa, Tuhan?
Namun...
Di tengah semua pertanyaan itu,
bolehkah aku tetap berharap?
Tetap berpegang
hanya kepada-Mu.
Sampai mujizat itu nyata.
Sampai anugerah-Mu
benar-benar kurasakan
dalam hidupku.
🤎 Dulu kutulis sebagai doa.
Hari ini kubagikan sebagai syukur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar