Puisi Tunggal
Hangat Yang Tak Terucap
Rintik jatuh perlahan —
tuk… tuk… tuk…
seolah langit menulis sesuatu
di kaca jendela.
Angin berdesir,
membawa dingin yang tak hanya singgah di kulit,
tetapi juga di hati —
menyentuh ruang kenangan
yang belum sepenuhnya ingin kututup.
Aku duduk diam,
mendengar bumi bernapas.
Ada sepi,
namun ada pula kedamaian kecil
yang tumbuh dari setiap tetes
yang menyentuh tanah.
Malam ini aku tak ingin melawan apa pun.
Biarlah hujan menulis ulang rinduku,
biarlah dingin mengingatkanku
bahwa aku masih bisa merasa.
Dan ketika semua suara mereda,
aku mengerti —
keheningan ini bukan akhir,
melainkan jeda
yang memelukku
agar aku pulih.
tuk… tuk… tuk…
seolah langit menulis sesuatu
di kaca jendela.
Angin berdesir,
membawa dingin yang tak hanya singgah di kulit,
tetapi juga di hati —
menyentuh ruang kenangan
yang belum sepenuhnya ingin kututup.
Aku duduk diam,
mendengar bumi bernapas.
Ada sepi,
namun ada pula kedamaian kecil
yang tumbuh dari setiap tetes
yang menyentuh tanah.
Malam ini aku tak ingin melawan apa pun.
Biarlah hujan menulis ulang rinduku,
biarlah dingin mengingatkanku
bahwa aku masih bisa merasa.
Dan ketika semua suara mereda,
aku mengerti —
keheningan ini bukan akhir,
melainkan jeda
yang memelukku
agar aku pulih.
“ditulis di bawah langit yang beraroma hujan.”
— Treesmie
Tidak ada komentar:
Posting Komentar