Mengapa? (Namun Ku Percaya)
Saat dadaku terasa sesak,
beban hidup semakin menghimpit.
Ku datang bersujud kepada-Mu,
mencari wajah-Mu, ya Tuhan.
Namun kata tak lagi terucap.
Doaku hanya tertahan di bibir.
Ku ingin berseru kepada-Mu,
namun suaraku seakan lenyap.
Ratusan... bahkan ribuan doa kupanjatkan.
Namun mengapa...
Engkau hanya diam?
Mengapa tangan-Mu tak terulur?
Mengapa Kau seakan berpaling dariku?
MENGAPA SEMUA INI TERJADI, TUHAN?!
Apakah dosaku teramat berat?
Saat semua orang menjauh...
Saat tawa mereka melukaiku...
MENGAPA KAU BIARKAN AKU SENDIRI?!
DI MANAKAH ENGKAU SAAT AKU TERJATUH?!
MENGAPA KAU MEMBIARKANKU?!
MENGAPA...?
MENGAPA, TUHAN...?
Namun...
di ujung air mataku...
jiwaku...
memilih berserah.
Ku mau tetap berharap pada-Mu.
Ku mau tetap berpegang pada-Mu.
Sampai mukjizat-Mu menjadi nyata.
Sampai anugerah-Mu memulihkan hidupku.
Sampai hari itu tiba...
aku akan tetap percaya.
dan jawaban Tuhan seolah tertutup oleh sunyi.
Namun iman bukan hanya tentang saat kita melihat pertolongan-Nya,
melainkan juga ketika kita tetap memilih percaya,
meski belum memahami jalan-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar