🌿 Harapan yang Kutulis untuk Sahabat 🌿
Sebuah doa kecil dari seorang sahabat yang masih ingin melihatmu menjalani lebih banyak hari.
Pagi ini aku mendengar
sahabatku mengambil hasil bone scan
di rumah sakit.
Namun sampai siang ini
aku belum mendapatkan kabar
bagaimana hasilnya.
Hatiku berdebar.
Rasanya gugup...
cemas...
Lusa
dia akan kembali menjalani
kemoterapi tulang rutinnya
melalui infus.
Perasaanku bercampur aduk.
Membayangkan
kemungkinan-kemungkinan
yang belum tentu terjadi.
Namun rasa sedih itu
tetap menyelinap
dan diam di dalam hati.
Hanya doa
yang dapat kunaikkan
untukmu, sahabat.
Dan saat malam tiba,
aku memberanikan diri bertanya.
Dengan harap dan cemas
aku menunggu jawabanmu.
Dan memang...
bukan hasil yang kuharapkan.
Hasil pemeriksaan mengatakan
kondisimu lebih buruk
dibandingkan hasil tahun lalu.
Bahkan...
berkali-kali lipat lebih buruk.
Seakan tubuhmu
sudah tidak memiliki
cukup tenaga untuk melawan.
Aku tertunduk lesu.
Sesaat aku terdiam.
Tidak...
Aku tidak boleh menjadi lemah.
Dia memerlukan
orang-orang yang kuat
yang selalu ada di sekelilingnya.
Jika aku menjadi lemah...
bagaimana dengan dia?
Dengan hati
yang kupaksa untuk tegar,
aku mencoba menghiburnya.
Entah...
adakah gunanya?
Aku pun hanya bertanya
kepada angin malam.
Tuhan...
aku tahu
aku tidak boleh meminta terlalu banyak.
Aku tahu
hidup dan mati
ada di dalam tangan-Mu.
Aku juga tahu
Engkau lebih mengenal
apa yang terbaik untuknya
daripada aku.
Namun...
bolehkah kali ini
aku meminta sedikit waktu lagi untuknya?
Aku ingin melihatnya
tetap ada.
Aku ingin melihatnya
menyaksikan anak-anaknya
menikah satu per satu.
Aku ingin melihat
senyum di wajahnya
ketika hari bahagia itu tiba.
Dan kalau Tuhan berkenan...
aku ingin melihatnya
menggendong cucu-cucunya.
Menyaksikan mereka tumbuh.
Mendengar suara mereka
memanggilnya...
Oma....
Entah mengapa
membayangkan semua itu
membuat dadaku terasa sesak.
Karena aku tahu...
semua itu
belum tentu terjadi.
Tetapi bukankah
aku masih boleh berharap?
Bukankah aku masih boleh
meminta kepada-Mu?
Maka malam ini...
aku tidak ingin
terlalu banyak berpikir
tentang apa yang mungkin terjadi.
Aku hanya ingin
menitipkan sahabatku kepada-Mu.
Jika tubuhnya sudah terlalu lelah,
berikan dia kekuatan.
Jika hatinya mulai takut,
berikan dia ketenangan.
Jika langkahnya terasa berat,
berikan dia kemampuan
untuk melewati satu hari lagi.
Dan jika masih Kau izinkan...
panjangkanlah waktunya, Tuhan.
Biarkan dia
menikmati lebih banyak hari.
Lebih banyak tawa.
Lebih banyak kebersamaan
bersama anak-anaknya.
Lebih banyak cerita.
Lebih banyak kebahagiaan.
Dan...
lebih banyak kesempatan
untuk melihat
doa-doa kecilnya menjadi nyata.
Aku tahu
aku tidak bisa mengubah
hasil pemeriksaannya.
Aku tidak bisa mengambil
rasa sakitnya.
Aku bahkan tidak tahu
apa yang akan terjadi
besok.
Tetapi malam ini
aku masih bisa melakukan satu hal...
berdoa.
Maka aku akan terus berdoa
untukmu, sahabatku.
Dan kalau suatu hari
aku kembali merasa takut...
aku akan mengingatkan diriku sendiri:
Aku tidak harus mengetahui
apa yang akan terjadi.
Aku hanya perlu percaya
kepada Dia
yang memegang hidupmu.
sahabatku mengambil hasil bone scan
di rumah sakit.
Namun sampai siang ini
aku belum mendapatkan kabar
bagaimana hasilnya.
Hatiku berdebar.
Rasanya gugup...
cemas...
Lusa
dia akan kembali menjalani
kemoterapi tulang rutinnya
melalui infus.
Perasaanku bercampur aduk.
Membayangkan
kemungkinan-kemungkinan
yang belum tentu terjadi.
Namun rasa sedih itu
tetap menyelinap
dan diam di dalam hati.
Hanya doa
yang dapat kunaikkan
untukmu, sahabat.
Dan saat malam tiba,
aku memberanikan diri bertanya.
Dengan harap dan cemas
aku menunggu jawabanmu.
Dan memang...
bukan hasil yang kuharapkan.
Hasil pemeriksaan mengatakan
kondisimu lebih buruk
dibandingkan hasil tahun lalu.
Bahkan...
berkali-kali lipat lebih buruk.
Seakan tubuhmu
sudah tidak memiliki
cukup tenaga untuk melawan.
Aku tertunduk lesu.
Sesaat aku terdiam.
Tidak...
Aku tidak boleh menjadi lemah.
Dia memerlukan
orang-orang yang kuat
yang selalu ada di sekelilingnya.
Jika aku menjadi lemah...
bagaimana dengan dia?
Dengan hati
yang kupaksa untuk tegar,
aku mencoba menghiburnya.
Entah...
adakah gunanya?
Aku pun hanya bertanya
kepada angin malam.
Tuhan...
aku tahu
aku tidak boleh meminta terlalu banyak.
Aku tahu
hidup dan mati
ada di dalam tangan-Mu.
Aku juga tahu
Engkau lebih mengenal
apa yang terbaik untuknya
daripada aku.
Namun...
bolehkah kali ini
aku meminta sedikit waktu lagi untuknya?
Aku ingin melihatnya
tetap ada.
Aku ingin melihatnya
menyaksikan anak-anaknya
menikah satu per satu.
Aku ingin melihat
senyum di wajahnya
ketika hari bahagia itu tiba.
Dan kalau Tuhan berkenan...
aku ingin melihatnya
menggendong cucu-cucunya.
Menyaksikan mereka tumbuh.
Mendengar suara mereka
memanggilnya...
Oma....
Entah mengapa
membayangkan semua itu
membuat dadaku terasa sesak.
Karena aku tahu...
semua itu
belum tentu terjadi.
Tetapi bukankah
aku masih boleh berharap?
Bukankah aku masih boleh
meminta kepada-Mu?
Maka malam ini...
aku tidak ingin
terlalu banyak berpikir
tentang apa yang mungkin terjadi.
Aku hanya ingin
menitipkan sahabatku kepada-Mu.
Jika tubuhnya sudah terlalu lelah,
berikan dia kekuatan.
Jika hatinya mulai takut,
berikan dia ketenangan.
Jika langkahnya terasa berat,
berikan dia kemampuan
untuk melewati satu hari lagi.
Dan jika masih Kau izinkan...
panjangkanlah waktunya, Tuhan.
Biarkan dia
menikmati lebih banyak hari.
Lebih banyak tawa.
Lebih banyak kebersamaan
bersama anak-anaknya.
Lebih banyak cerita.
Lebih banyak kebahagiaan.
Dan...
lebih banyak kesempatan
untuk melihat
doa-doa kecilnya menjadi nyata.
Aku tahu
aku tidak bisa mengubah
hasil pemeriksaannya.
Aku tidak bisa mengambil
rasa sakitnya.
Aku bahkan tidak tahu
apa yang akan terjadi
besok.
Tetapi malam ini
aku masih bisa melakukan satu hal...
berdoa.
Maka aku akan terus berdoa
untukmu, sahabatku.
Dan kalau suatu hari
aku kembali merasa takut...
aku akan mengingatkan diriku sendiri:
Aku tidak harus mengetahui
apa yang akan terjadi.
Aku hanya perlu percaya
kepada Dia
yang memegang hidupmu.
Harapan terkadang hanya berupa doa kecil
yang terus kita titipkan kepada Tuhan.
— Treesmie 🌿
yang terus kita titipkan kepada Tuhan.
— Treesmie 🌿
Tidak ada komentar:
Posting Komentar