Seperti ujung belati yang menyentuh hati,
nyerinya menjalar diam-diam ke dalam.
Penyakit itu terasa begitu menakutkan —
mengapa harus kamu?
Kamu yang selalu ceria,
yang menggoda dengan tawa ringan,
energi hangat yang dulu memancar
kini tampak redup dan lelah.
Aku tak sanggup
duduk lama di hadapanmu,
menatap perubahan yang begitu nyata.
Kadang terlintas ingin berdiri di balik pintu,
atau memalingkan wajah sejenak —
bukan karena tak peduli,
tapi karena hati ini terlalu perih.
Namun hati tak pandai berdusta.
Mulut ingin berkata sesuatu,
mata ingin menatap lebih lama,
namun semua membeku di tenggorokan.
Mata ini kembali basah —
perlahan…
dan di sela sunyi itu
ada doa yang berbisik lirih:
Tuhan, mampukan sahabatku
melewati badai ini.
🌿 Di antara kata yang gugur, ada yang tumbuh menjadi doa. 🌿
— sehelai penutup dari Treesmie
Tidak ada komentar:
Posting Komentar