Ada masa dalam hidup ketika kita dipaksa belajar menerima hal yang tidak pernah kita minta. Melihat seseorang yang begitu kita kenal — ceria, kuat, penuh semangat — perlahan berubah oleh sakit yang tak terduga.
Rasa perih itu bukan hanya miliknya, tapi juga milik hati yang menyaksikan. Kita ingin berkata banyak hal, ingin menguatkan, ingin meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Namun sering kali, kata-kata justru mengendap dan hanya doa yang mampu berjalan lebih dulu.
Di hadapan sakit, kita belajar bahwa manusia sungguh rapuh. Tak ada yang benar-benar siap melihat orang yang kita sayangi terluka. Tapi mungkin di sanalah Tuhan sedang mengajarkan kita tentang kasih — tentang tinggal, tentang setia menemani, meski tak mampu menghapus nyeri.
Karena kadang, menggenggam tangan dalam diam lebih berarti daripada seribu kalimat penghiburan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar