Seperti malam-malam yang lalu, malam ini pun aku melakukan hal yang sama.
Aku kembali menarik dan menjalin benang rajut di tanganku.
Targetku, bulan Mei nanti semuanya harus selesai.
Aku menjalin helai demi helai pada benang yang kukaitkan ke hakpenku,
membentuk pola yang perlahan menjadi indah.
Saat ia terbentuk… senang rasanya hatiku.
Aku tersenyum, ada puas yang sederhana.
Tak lagi kurasakan pegal di bahu,
atau lelah di jemari.
Namun ketika senyum itu masih tinggal di wajahku,
“Ting…” notifikasi masuk ke ponselku.
Kabar datang dari anak sahabatku,
hasil pemeriksaan telah keluar.
Dan hasilnya membuat air mataku jatuh tanpa aba-aba.
Seperti luka tersiram cuka,
perihnya menelusup hingga ke kalbu.
Penyakit itu… dokter menyebutnya langka,
dan kata “mematikan” terasa terlalu berat untuk diucapkan.
Ya Tuhan… bukan aku hendak menyalahi keilahian-Mu,
namun izinkan hatiku bertanya pelan,
mengapa harus seberat ini?
Semua terjadi tentu atas izin-Mu.
Jarum dan benang menjadi saksi bisu,
sementara hening menjelma doa yang tak bersuara.
Malam itu rajutanku tetap berlanjut,
meski tak lagi sekadar menyusun pola.
Setiap kaitan kini seperti titipan harap,
setiap helai menjadi doa yang diam-diam kupanjatkan.
Barangkali takdir tak bisa kupahami,
tapi aku percaya—
Engkau tak pernah meninggalkan siapa pun sendirian.
Dan di antara benang yang terus kusambung,
aku belajar bahwa hidup pun demikian:
ada simpul yang rapi,
ada pula yang terasa kusut,
namun semuanya tetap terjalin dalam tangan-Mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar