Masih terbayang tawa lepasmu,
masih terdengar suara khas itu.
Masih teringat caramu menggoda sahabat-sahabat kita,
membuat suasana pecah oleh canda.
Kita bercengkerama tanpa beban,
tertawa meledak bersama,
riuh tepuk tangan dan gelak yang saling bersahut,
seolah waktu enggan beranjak.
Banyak dari kami merasa begitu dekat denganmu.
Dan kini, kami memeluk kesedihan yang sama—
kehilangan riuh itu perlahan,
digantikan hening yang tak biasa.
Saat melihatmu meringis menahan sakit,
saat tubuhmu tersentak oleh perih yang berkepanjangan,
kami hanya mampu menatap sendu.
Tak banyak yang dapat kami lakukan.
Tak ada kata yang benar-benar cukup.
Hanya genggaman erat yang kami titipkan,
seolah lewat sentuhan itu
kami bisa memindahkan sedikit kekuatan.
Riuh itu kini tak lagi sama,
namun ia tidak pernah benar-benar hilang.
Ia berubah menjadi doa—
pelan,
lirih,
namun tak pernah berhenti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar