Lembar X
☘️ Di Ujung Kamar Yang Sepi
— Tentang Sahabat
Mengunjungimu sekali lagi,
menatap wajahmu dalam kesunyian.
Jam berdetak perlahan,
seakan tahu kelelahanmu,
dan memilih berjalan lebih pelan…
agar kau bisa beristirahat sejenak.
Di tengah keluargamu,
kau tetap tampak sendiri.
Di ujung kamar yang sepi,
kau terdiam dalam keheningan
yang tidak semua orang mampu mengerti.
Matamu hampa menatap langit-langit rumah sakit,
seakan bertanya…
mengapa semua ini harus terjadi.
Namun tak kau temui jawaban.
Hanya napas yang kau hela pelan,
dan waktu yang terus berjalan
tanpa banyak suara.
Dan di antara diam itu,
aku berdiri—
membawa doa yang tidak banyak kata.
Doa yang tidak memaksa,
tidak juga menuntut.
Hanya berharap…
agar lelahmu diringankan,
agar hatimu dikuatkan,
dan jika harus melalui jalan ini—
kau tidak berjalan sendirian.
Lalu perlahan,
matamu terpejam…
Dan di saat itulah,
aku menitipkan satu harapan kecil pada langit:
semoga damai
menemukanmu lebih dulu
sebelum rasa sakit itu kembali datang.
menatap wajahmu dalam kesunyian.
Jam berdetak perlahan,
seakan tahu kelelahanmu,
dan memilih berjalan lebih pelan…
agar kau bisa beristirahat sejenak.
Di tengah keluargamu,
kau tetap tampak sendiri.
Di ujung kamar yang sepi,
kau terdiam dalam keheningan
yang tidak semua orang mampu mengerti.
Matamu hampa menatap langit-langit rumah sakit,
seakan bertanya…
mengapa semua ini harus terjadi.
Namun tak kau temui jawaban.
Hanya napas yang kau hela pelan,
dan waktu yang terus berjalan
tanpa banyak suara.
Dan di antara diam itu,
aku berdiri—
membawa doa yang tidak banyak kata.
Doa yang tidak memaksa,
tidak juga menuntut.
Hanya berharap…
agar lelahmu diringankan,
agar hatimu dikuatkan,
dan jika harus melalui jalan ini—
kau tidak berjalan sendirian.
Lalu perlahan,
matamu terpejam…
Dan di saat itulah,
aku menitipkan satu harapan kecil pada langit:
semoga damai
menemukanmu lebih dulu
sebelum rasa sakit itu kembali datang.
“Dalam diam, doa tetap berjalan… meski tanpa suara.”
— Treesmie
Tidak ada komentar:
Posting Komentar